Bondowoso – Di balik hijaunya perbukitan dan lebatnya hutan pedalaman Bondowoso, tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh pendidikan yang berupaya mengembalikan harapan anak-anak putus sekolah. Dialah Kyai Agung Wijaksono, sosok yang dikenal karena kepeduliannya terhadap masa depan generasi muda di daerah pelosok.
Segalanya berawal dari keprihatinan Kyai Agung ketika menyaksikan banyak anak di daerah pegunungan dan perkampungan hutan yang berhenti sekolah. Alasannya pun beragam. Ada yang terpaksa berhenti karena sekolahnya dimerger sehingga lokasi sekolah baru menjadi terlalu jauh dan sulit dijangkau. Sebagian lainnya tidak bersekolah karena tidak ada yang bisa mengantar, sementara jarak ke sekolah cukup jauh dan akses transportasi sangat terbatas. Ada pula yang tidak melanjutkan pendidikan karena orang tua kesulitan biaya, bahkan untuk sekadar memberi uang saku harian. Tak sedikit anak yang akhirnya memilih membantu orang tua bertani di hutan. Kondisi ini diperparah oleh keberadaan sekolah yang kadang gurunya tidak datang, sehingga perlahan membuat orang tua kehilangan semangat untuk menyekolahkan anaknya.
Melihat kenyataan itu, Kyai Agung tak ingin berpangku tangan. Ia berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan yang mampu menjawab persoalan akses sekaligus kebutuhan spiritual masyarakat. Konsep yang lahir kemudian adalah pendidikan berbasis pesantren, yang tidak hanya menampung anak-anak dari berbagai latar belakang, tetapi juga menyesuaikan dengan kearifan lokal daerah setempat.
Dengan model pesantren, anak-anak bisa belajar sekaligus tinggal di lingkungan yang aman dan terpantau. Tak perlu menempuh perjalanan jauh ke sekolah setiap hari, karena proses belajar berlangsung di tempat yang sama dengan tempat tinggal. “Ini cara kami menjembatani jarak, sekaligus menjaga semangat belajar mereka,” ungkapnya.
Perjuangan Kyai Agung tidak berhenti pada pembangunan lembaga semata. Bersama masyarakat dan para relawan pendidikan, ia turun langsung menjelajahi desa-desa terpencil hingga ke pedalaman hutan. Mereka mendatangi rumah-rumah warga, berbincang dengan orang tua, dan mengajak anak-anak yang telah lama meninggalkan bangku sekolah untuk kembali belajar.
Pendekatan yang dilakukan bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan dan kesabaran. Kyai Agung memahami bahwa sebagian besar masyarakat pelosok masih menimbang pendidikan dari sisi kebutuhan harian, bukan masa depan. Karena itu, ia menggunakan pendekatan dakwah yang lembut, menyatukan nilai-nilai agama dan pentingnya ilmu pengetahuan dalam setiap perbincangan dengan warga.
Usaha itu perlahan membuahkan hasil. Semakin banyak anak-anak di pelosok Bondowoso yang kini kembali bersekolah lewat pesantren yang ia dirikan. Orang tua pun mulai sadar bahwa pendidikan bukanlah beban, melainkan investasi bagi masa depan keluarga.
Kini, pesantren yang diasuh Kyai Agung menjadi oase pendidikan di tengah keterbatasan akses pedesaan. Dengan kurikulum yang fleksibel dan lingkungan belajar yang inklusif, pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang cerdas secara akademik dan religius, tetapi juga berkarakter kuat dan berjiwa sosial.
Kyai Agung berharap, model pendidikan yang ia jalankan dapat menginspirasi banyak pihak untuk meniru langkah serupa di daerah lain. “Pendidikan seharusnya tidak berhenti hanya karena jarak atau keadaan ekonomi. Semua anak berhak punya masa depan,” ujarnya menutup perbincangan.